Lontar Hadis Dagang Banyuwangi dan Kitab Babonnya

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Lontar Hadis Dagang Banyuwangi dan Kitab Babonnya

Banyuwangi menyimpan khazanah naskah kuno yang masih terawat dalam tradisi masyarakatnya. Mereka tetap melestarikan manuskrip berusia puluhan tahun, bahkan lebih dari seabad, dalam laku mocoan. Baik yang dilakukan dalam ritual adat maupun kegiatan rutin. Seperti halnya mocoan Lontar Yusup, Lontar Ahmad, Lontar Tawangalun dan Lontar Hadis Dagang. Menariknya, beragam kitab yang rerata beraksara Pegon dan berbahasa Jawa itu, mulai ditransliterasi, diterjemahkan serta dipublikasikan secara luas. Salah seorang aktornya adalah sahabat sekaligus guru saya, Wiwin Indiarti dan suaminya, Mas Anasrullah. Di tengah keduanya, telah terbit sejumlah buku terjemah atas naskah-naskah kuno yang ada di Banyuwangi. Di antaranya adalah Lontar Yusup (2018), Babad Tawangalun (2019), Lontar Sritanjung (2020) dan yang terbaru adalah Lontar Hadis Dagang yang terbit di penghujung 2021 kemarin. Siang tadi, saya mendapatkan buku tersebut dari penulisnya langsung.

Lontar Hadis Dagang ini, sejauh amatan penulis buku, merupakan naskah tunggal. Tidak seperti naskah Lontar Yusup yang cukup banyak ditemukan di Banyuwangi. Satu-satunya naskah yang ditemukan dan jadi bahan utama penerjemahan tersebut adalah koleksi dari Ibu Kasri dari Dusun Delik, Desa Jambesari, Kecamatan Giri, Banyuwangi. Ia mendapatkannya dari mendiang suaminya, Untung. Ia mewarisinya dari ayahnya, Musyawaroh, yang mendapatkannya dari sang bapak, Aminah. Dari keturunan Mbah Aminah inilah tradisi pembacaan Lontar Hadis Dagang masih dilestarikan. Pembacaan mocoan Lontar Hadis Dagang tersebut dilakukan setiap selamatan kebun (Nyelameti Kebon). Dilaksanakan setiap pada tanggal 10 Dzulhijjah tiap tahunnya. Tidak hanya di Banyuwangi, di sejumlah katalog naskah yang bisa ditelusuri oleh penulis buku juga tak ditemukan naskah yang sama. Setidaknya naskah yang berjudul Hadis Dagang.

Penamaan Lontar Hadis Dagang yang dipakai di sini, memang tak merujuk pada judul resmi yang tercantum dalam naskah. Namun, berasal dari penamaan yang disampaikan secara lisan dari generasi ke generasi. Jika merujuk ke isi naskah, penamaan tersebut, memang tak dapat disalahkan. Karena sedari awal hingga akhir naskah, memang menceritakan tentang perjalanan Nabi Muhammad yang sedang berdagang ke Syam. Sehingga tak ayal disebut dengan Hadis Dagang. Jika ditilik dari alur cerita sendiri, naskah ini, sebenarnya memiliki sejumlah edisi lainnya. Meskipun edisi lain tersebut, tergabung dalam naskah yang lebih panjang lagi. Seperti halnya naskah koleksi Universitas Indonesia dengan kode CI.99. Naskah ini berjudul Serat Patimah Sami Saha Babad Muhammad.

Naskah koleksi UI yang telah didigitalisasi dengan kode NR 535 itu, terdiri dari 661 halaman recto verso. Dari halaman setebal itu, yang memiliki kesamaan dengan Lontar Hadis Dagang adalah halaman 134-201. Bagian yang menceritakan tentang perjalanan Nabi Muhammad pergi berdagang ke Syam. Naskah yang menggunakan aksara Hanacaraka ini sendiri telah dialih aksara dan alih bahasa kan oleh Novarina pada 2019 dengan judul yang sama. Dari dua naskah tersebut, nyaris secara keseluruhan memiliki alur penceritaan yang sama. Namun, pada bagian awal dan akhir, naskah UI lebih lengkap. Berikut secara ringkas kisahnya:

Abu Tholib gundah melihat keponakannya, Nabi Muhammad, yang sudah menginjak usia 25 tahun belum memiliki pengalaman berdagang. Hanya berkutat dalam aktivitas menggembala kambing saja. Dari sinilah kemudian ia menyuruh Muhammad SAW untuk bekerja kepada saudagar perempuan kaya raya, Dewi Khadijah. Singkat cerita, Muhammad pun mendapat tugas untuk berdagang ke Syam. Ia diperintahkan untuk mengajak pula saudara-saudaranya. Di antaranya yang ikut adalah pamandanya, Abu Jahal. Sebagai orang terkaya dalam rombongan tersebut, ia ditunjuk sebagai kepala rombongan. Namun, di tengah perjalanan, unta yang dikendarainya tak mau beranjak. Akhirnya tertinggal rombongan. Sang kepala pun diganti oleh Ki Atobah. Namun, pada saat memimpin rombongan, unta Ki Atobah dimangsa harimau dan ia lari terbirit. Keesokan harinya, kepala rombongan kembali diganti. Kali ini, dipimpin oleh Ki Kasim.

Saat memimpin kafilah tersebut, ternyata unta yang ditunggangi oleh Kasim tersesat di jalur yang tak bisa dilalui oleh manusia. Untuk kembali pun kafilah tersebut kesulitan karena tak lagi terjejak. Bahkan, perbekalan mereka telah menipis. Dalam kondisi demikian, kisah di Lontar Hadis Dagang (LHD) dimulai. Tepatnya pada Pupuh II karena pada Pupuh I hanya berisi pengantar dari penulis naskah.

Kang sawiji kancane nahuri/ nora Wikan dalan muhu/ saksana ana bature/ tuduweng marga kadulu/ nora ajambar amung sadhedik/ sampune linebonan/ iya alas agung/ punang waraksa datan ana/ kakayune ika sami cilik-cilik/ wana agung gareta.

Saat kafilah tersebut dirundung keputusasaan, akhirnya Nabi Muhammad didaulat untuk mengambil alih kepemimpinan. Pertolongan Allah pun segera datang mengatasi berbagai rintangan yang menghadang. Dalam LHD disebutkan, jalan yang sempit di tengah hutan itu, ditarik oleh malaikat sehingga menjadi lapang dan bersih sehingga mudah dilalui (ingkang alurung kelangkung arupit/ gelis tinarik dening malaikat/ ajembar rawuh alese/ aresik sitinepun). Sementara, di naskah CI.99, terdapat perbedaan redaksi. Unta yang ditunggangi Nabi Muhammad dituntun oleh Malaikat Jibril dan seketika jalanan menjadi lapang, tak ada rintangan apapun (nulya ana ara-ara malih/ aneng ngarsa jembar tur apadang). Begitu pula kisah-kisah selanjutnya dalam perjalanan tersebut kedua naskah nyaris sama alur ceritanya. Mulai bertemu ular besar (LHD: Sarpa agung, CI.99: ula kang ageng tur aghalak), air yang menghadang, harimau sampai nanti bertemu dengan seorang pendeta Nasrani sesampainya di Syam. Di LHD, sang pendeta disebut dengan nama Sahuwat, sedangkan di CI.99 disebut Ki Saharah.

Pertemuan dengan Kiai Sahuwat dalam Lontar Hadis Dagang mengakhiri cerita. Hanya ada tambahan satu pupuh lagi, namun berupa teks yang berbeda. Berisi tentang penjelasan sifat-sifat Allah dan Rasulullah. Sementara dalam CI.99, masih menyisakan cerita lanjutan. Kafilah Nabi Muhammad tersebut kemudian diterima oleh Raja Syam dengan suka cita. Bahkan, oleh para ulama mereka juga menyambutnya dengan riang gembira. Salah satunya adalah Ki Patinggi.

Kehadiran Nabi benar-benar menjadi pusat perhatian dari masyarakat Syam. Mereka semua kagum akan sorot wajah sang Nabi. Meski demikian, juga ada saja orang yang berniat jahat pada Nabi Muhammad. Ada yang hendak menipu dagangan Nabi sekaligus ingin membunuhnya. Namun, niatan tersebut, gagal karena pertolongan Allah. Kemudian dalam lanjutan perjalanannya, Nabi Muhammad juga bertemu dengan Kiai Yusak saat hendak pulang. Yang mana pada akhirnya, Kiai Yusak pun turut mengakui kenabian Muhammad dan mengimaninya. Setelah itu, Nabi hendak pulang ke Mekkah. Sampai di sinilah, kisah tersebut berakhir.

Sak wernane darbane wong nyepi/ kang wowohan keleman ika/ cinantelaken untane/ sampun tebih wau jeng Rasul/ Kiai Yusak anulih mulih/ nabi lepas lampahnya/ LAN sakancanipun/ ya ta sakeh buren wana/ miwah peksi sedaya sami angiring/ kadya kewan keneng guna.

Dari kesamaan kisah tersebut, dapat dipastikan jika Serat Patimah Sami Saha Babad Muhammad ini adalah naskah babonnya Lontar Hadis Dagang. Naskah yang juga berjejaring dengan naskah-naskah yang nyaris sama dan ditemukan di tempat lainnya. Seperti di PNRI, Museum Sonobudoyo, Pakualaman sampai Universitas Leiden, Belanda.

Sumber : banyuwanginet / 2022 / lontar hadis dagang banyuwangi dan kitab babonnya/https://banyuwanginet.com/lontar-hadis-dagang-banyuwangi-dan-kitab-babonnya/

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Apa Reaksi Anda?

Berita Terkait

Download Aplikasi Budiwangi!

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Membaca Buku Dalam Genggaman.

Download Aplikasi Budiwangi!

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Membaca Buku Dalam Genggaman.