Akhir akhir ini kita sering mendengar berita tentang kekerasan yang dilakukan oleh siswa kepada guru. Guru di Sumenep telah menjadi korban kekerasan muridnya. Ahmad Budi Cahyanto sedang mengajar mata pelajaran seni rupa di kelas XII SMAN Torjun. Saat itu siswa berinisial MH tidak mendengarkan pelajaran. Maksud sang guru menegur murid dengan mencoret pipinya dengan cat lukis, si murid malah menjadi jadi dengan memukul sang guru. Singkat cerita, sang guru meninggal setelah mendapat perawatan di RSUD dr. Soetomo Surabaya. Tidak hanya kasus itu, kejadian yang masih fresh ini terjadi pada tanggal 13-02-2018, jam 10.00 di SMP 4 Lolak, sulawesi utara. Kali ini yang menjadi korban bukan guru tetapi kepala sekolah dan pelakunya pun bukan murid, melainkan wali murid. Berawal dari sang kepala sekolah menegur murid, kemudian kepala sekolah mendatangkan wali murid untuk membuat pernyataan. Wali murid tak terima akhirnya menganiyaya kepala sekolah. Miris.

Pendidikan yang sesungguhnya adalah menjadikan manusia seutuhnya malah menjadi ajang adu tinju mempertontonkan sifat kehewanan. Lalu apakah ini pembenaran bahwa guru harus bertindak keras juga, atau guru harus dibekali ilmu beladiri untuk menghadapi murid atau wali murid yang melakukan penyerangan? TIDAK! Mari kita kupas satu per satu untuk mencari solusi.

Dengan banyaknya kasus menurut Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa sepanjang 2017 terdapat 358 kasus di sekolah yang meliputi beragam kekerasan, dari fisik, psikis, hingga seksual.
Kemudian ada banyak pihak yang menyalahkan murid sebagai buang keladi,

“itu salah muridnya. Gak punya aturan! Kalau dulu ya, kita lapor ke orang tua kita yang bakalan tambah di hukum. ”

Menurut saya sih, bukan sepenuhnya salah murid, murid adalah produk dari sebuah sistem. Sistem lingkungan, sistem sekolah, dan banyak hal. Coba di cek, kekerasan yang dilakukan oleh murid itu berdasarkan contoh dari siapa? Tayangan youtube yang bisa dilihat bebas kah? Atau bahkan anak tersebut korban dari kekerasan orang tua kah, sehingga mencari pelampiasan untuk meniru perilaku dari orang tuanya, atau tayangan yang bisa dilihat secara gratis di youtube?

Mendidik anak jaman sekarang beda dengan mendidik anak jaman dahulu. Jaman dahulu jauh dari distraksi distraksi dan dekat dengan tauladan. Dahulu orang tua dengan mudah menjadi contoh anak. Kalau sekarang, banyak yang bisa menjadi contoh. Parahnya, anak merekam dan menganggap benar semua contoh yang dilihat karena masih belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Guru sudah seharusnya meninggalkan cara cara lama dalam mengajar, mengajar dengan cara biasa yang membuat anak bosan dengan sekolah.

Jika di sekolah yang di tunggu adalah bel pulang, maka Rumah baca yang ditunggu adalah kedatangannya. Entah kenapa, di rumah baca, anak anak selalu antusias belajar dengan senang hati. Rumah baca hadir sebagai alternatif pendidikan dan sekaligus mengontrol distraksi. Banyak metode kreatif yang ditawarkan di rumah baca. Ketika beberapa anak rumah baca yang berafiliasi dengan rumah literasi indonesia ditanya, lebih bahagia mana sekolah dari pagi sampai siang atau seharian di rumah baca? Mereka lebih memilih seharian di rumah baca dari pada 6 hari di sekolah. Cara cara rumah baca di RLI beragam, dan yang pasti kekinian. Tak terlihat ada kekerasan di rumah baca. Mereka melakukan dengan sadar. Bahwa sebenarnya, pendidikan formal bisa menjadi menarik dan ditunggu ketika peran guru menjadi merdeka, mengajak anak belajar sesuai era nya( bukan memaksakan metode metode lama.) dan menjadi sahabat murid.

Sumber: https://rumahliterasiindonesia.org/

Saya berharap dengan adanya rumah baca yang ada di indonesia ini, menjadikan alternatif pendidikan, mengisi kekosongan murid yang terlalu dimanjakan oleh gadget.

Rahmadinata Syafa’at S.SI

Relawan di Rumah literasi Indonesia yang kebetulan menjadi Staff Desa di Desa Literasi Ketapang – Banyuwangi