Banyuwangi –  Siswa-siswi PKL dari sekolah SMKN 1 Banyuwangi, SMK Gajah Mada dan SMK PGRI 1 Banyuwangi  menerima bimbingan pengolahan bahan pustaka di ruang restorasi bahan pustaka Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi (21/04/2021).

Kegiatan pengolahan bahan pustaka tersebut dikenalkan oleh Pustakawan Ahli Madya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, Hj. Fitrin Kuntartini, S.Sos., M.Si, kepada siswa-siswi sekolah yang sedang malaksanakan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tempat tersebut yang didampingi oleh Kurniantoro S.Sos. Dalam pengenalan tersebut dijelaskan bahwa salah satu kegiatan dari Bidang Perpustakaan pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi adalah melakukan pengolahan bahan pustaka. Pengadaan buku baru tidak ditempatkan atau disajikan di rak pelayanan perpustakan begitu saja namun harus melalui suatu proses yang disebut pengolahan bahan pustaka. Pengolahan bahan pustaka ini bertujuan untuk memudahkan proses temu kembali bahan pustaka yang dibutuhkan.

 

”Pengolahan bahan pustaka merupakan kegiatan inti di dalam suatu organisasi Perpustakaan dimulai dari buku masuk ke Perpustakaan sampai siap untuk dimanfaatkan atau dilayankan kepada pemustaka” ungkap Hj. Fitrin.

Menurut Kurniantoro, pengenalan pengolahan bahan pustaka kepada siswa-siswi PKL ini bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan, sikap dan kemampuan profesi siswa-siswi melalui penerapan ilmu, melatih kerja dan pengamatan teknik-teknik yang diterapkan dalam bidang keahlian perpustakaan maupun kearsipan.

”Kegiatan ini juga diperlukan untuk memberikan kesempatan kepada siswa-siswi dalam memperoleh pengalaman dalam mengaplikasikan teori pengolahan bahan pustaka dan seluruh kegiatan mereka pada saat PKL ini” ungkap Kurniantoro.

”Diharapkan setelah selesai melaksanakan PKL di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, semua siswa dapat menjadi individu yang berkualitas dan memiliki profesionalisme yang tinggi dalam dunia kerja” lanjutnya.

Kegiatan pengenalan pengelolaan bahan pustaka, dilakukan di ruang restorasi (21/04) dan mendapat bimbingan langsung dari Pustakawan dan Staf bidang Perpustakaan. Didalam ruangan berukuran 6 x 7 meter tersebut, siswa-siswi diajarkan cara menginventarisasi, mengklasifikasi, menginput data (katalogisasi), dan melabel bahan pustaka yang diolah dengan menggunakan peralatan yang sudah disediakan seperti perangkat Komputer, dan material yang dibutuhkan lainnya.

Dalam proses pengolahan bahan pustaka, paling tidak ada empat kegiatan pokok yang harus dilakukan yaitu: (1) inventarisasi, (2) klasifikasi, (3) input data (katalogisasi), dan (4) labeling.

Pada tahapan Inventarisasi, buku yang baru dibeli di cek kesesuaian antara judul dan jumlah eksemplar yang dipesan. Kemudian dicek kondisi buku-buku tersebut, ada yang cacat atau tidak. Ketika ditemukan buku yang cacat, maka akan dimintakan penggantian kepada penyedia buku. Setelah buku dalam kondisi sesuai dan baik, kemudian buku-buku tersebut dilakukan pengecapan kepemilikan dan inventaris.

Pada tahapan Klasifikasi, buku dikelompokkan kedalam subjek yang sama. Tujuan klasifikasi adalah mengelompokkan buku dengan subjek yang sejenis dan mengeluarkan buku dengan subjek yang tidak sama. Kemudian masing-masing buku ditentukan subjek dan kelasnya masing-masing. Setelah subjek dan kelas ditentukan, maka ditulis pada lembar kerja yang sudah disediakan.

Pada tahapan Input data (katalogisasi), lembar kerja yang sudah dibuat, datanya akan dimasukkan pada aplikasi INLIS Lite. INLIS Lite merupakan perangkat lunak (software) aplikasi otomasi perpustakaan yang dibangun dan dikembangkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) sejak tahun 2011. Semua data yang ada, dimasukkan kedalam aplikasi dan menambah cover buku yang dapat dicari melalui pencarian internet maupun dengan mengambil foto cover buku yang diinputkan datanya.

Pada tahapan Labelling, data buku yang sudah diinput kedalam aplikasi dicetak kartu labelnya untuk ditempelkan pada buku yang bersangkutan. Proses pencetakan dan pelabelan pada buku ini membutuhkan ketelitian karena ketika terjadi ketidaksesuaian antara buku dan label yang ditempel, maka proses temu kembali bahan pustaka akan sulit dilakukan. Label buku ini berisi nomor kelas, tiga huruf nama depan pengarang, satu huruf judul depan buku, nomor barcode buku dan nama Perpustakaan.

Seletah rangkaian pengolahan bahan pustaka ini dilakukan, maka buku siap dijajarkan pada rak buku sesuai dengan kelas yang sudah ditentukan.